Oleh I Putu Suwitra, S.Pd

Sabtu, 11 September 2010

Materi Sejarah Kelas VII Semester Ganjil

BAB I PENGERTIAN DAN PEMBABAKAN ZAMAN PRASEJARAH DI INDONESIA

 Standar Kompetensi : Memahami Lingkungan Kehidupan Manusia
 Kompetensi dasar : Menjelaskan Kehidupan Pada Masa Prasejarah di Indonesia
 Indikator : Menjelaskan pengertian dan kurun waktu masa prasejarah
 Alokasi Waktu : 4 X 40 menit

TUJUAN PEMBELAJARAN
Dengan mempelajari bab ini, kamu diharapkan mampu:
• Menjelaskan pengertian sejarah;
• Mengidentifikasi sumber-sumber sejarah;
• Menjelaskan pengertian zaman prasejarah dan zaman sejarah;
• Menguraikan pembabakan zaman prasejarah di Indonesia;
• Mengidentifikasi ilmu bantu dalam penelitian prasejarah di Indonesia
=========================================================
Pendalaman Materi/Konsep
Pelajaran sejarah merupakan bagian dari ilmu pengetahuan sosial. Ahli sejarah di Indonesia, Kuntowidjoyo, mendefinisikan sejarah sebagai sebuah rekonstruksi masa lalu. Hal yang direnkonstruksi adalah apa saja yang sudah dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dirasakan, dan dialami oleh seseorang.
Sejarah adalah rekaman peristiwa yang terjadi di masa lalu dengan pelakunya adalah manusia. Jadi setiap orang memiliki sejarah sendiri-sendiri. Untuk dapat mengetahui sejarah suatu bangsa, dapat dilakukan dengan meneliti sumber-sumber sejarah. Sumber sejarah ada tiga macam, yaitu sumber lisan, sumber tertulis, dan sumber benda.
A. Pengertian Sejarah
Kata sejarah berasal dari bahasa Arab, yaitu Syajaratun yang berarti pohon. Apabila kita melihat pohon secara terbalik, kita dapat menghubungkannya dengan bentuk penggambaran silsilah keturunan.
Sejarah dalam arti sempit, adalah segala sesuatu yang terjadi di waktu lampau. Dapat pula dikatan bahwa sejarah adalah ilmu yang mempelajari kejadian-kejadian atau peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Dengan mempelajari sejarah, kita dapat mengetahui kehidupan budaya manusia pada masa lampau, perekonomiannya, kenegaraannya, bentuk bangunannya, hasil karyanya, serta mengetahui bagaimana perjuangan manusia dalam mempertahankan hidupnya. Ingatlah bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai sejarah bangsanya.
B. Sumber Sejarah
Ada tiga macam sumber sejarah, yaitu sebagai berikut.
• Sumber lisan, adalah keterangan berupa ucapan atau perkataan dari orang-orang yang mengalami peristiwa secara langsung atau menjadi saksi langsung dari peristiwa tersebut.
• Sumber tertulis, adalah sumber yang berupa prasasti-prasasti, dokumen, naskah, babad, rekaman, dan tulisan yang terdapat pada benda seperti batu, logam, kayu, bambu, gerabah, tulang, tanduk, daun lontar.
• Sumber benda, adalah sumber yang berupa peninggalan-peninggalan sejarah ataupun benda-benda budaya seperti kapak, geranah, perhiasan, manik-manik.
Sumber sejarah tidak langsung dapat digunakan untuk mempelajari sejarah. Sumber tersebut harus di verifikasi sehingga layak untuk dijadikan referensi dalam mempelajari sejarah. Verifikasi yaitu kritik sumber yang terdiri dari hal-hal berikut:
1. Kritik ekstern, kritik mengenai keaslian sumber (otentisitas).
2. Kritik intern, kritik apakah sumber tersebut dapat dipercaya atau tidak (keabsahan/kredibilitas).
C. Pengertian Zaman Prasejarah dan Zaman Sejarah
Zaman prasejarah adalah zaman ketika manusia belum mengenal atau menggunakan tulisan. Sedangkan zaman sejarah adalah zaman ketika manusia mengenal dan menggunakan tulisan. Zaman sebelum manusia mengenal tulisan disebut zaman prasejarah. Pra berarti sebelum, sedangkan sejarah adalah cerita atau kisah manusia pada masa silam yang belum ada bukti tertulis. Zaman prasejarah juga biasa disebut zaman praaksara, pra artinya tulisan dan aksara artinya tulisan. Juga dikenal zaman nirleka (nir : tidak, leka : tulisan), jadi nirleka adalah zaman tanpa tulisan.
Setiap daerah memasuki zaman sejarah berbeda-beda, cepat tidaknya suatu bangsa memasuki zaman sejarah tergantung dari tinngi rendahnya tingkat kebudayaan yang sudah mereka miliki dan sudah adanya bukti tertulisnya. Contohnya Indonesia, diperkirakan memasuki zaman sejarah pada abad ke-4 Masehi (sekitar tahun 400-an) dengan diketemukannya sebuah sumber tertulis dari kerajaan Kutai, di Kalimantan Timur, yang berupa Yupa (tugu batu pengikat hewan kurban) sebanyak 7 buah yang berisi cerita tentang kerajaan Kutai dengan menggunakan huruf
Pallawa dan bahasa Sansekerta. Akan tetapi, di Mesir mereka sudah memasuki zaman sejarah jauh lebih dulu, yakni sekitar 4000 SM.
D. Pembabakan Zaman Prasejarah di Indonesia
Pembabakan (pembagian) zaman prasejarah di Indonesia, para ahli membaginya berdasarka dua hal, yakni secara arkeologi dan secara geologi. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari hasil-hasil kebendaan dari kebudayaan-kebudayaan yang sudah silam. Secara arkeologi Maka masa ini dibagi dua, yakni sebagai berikut:
1. Zaman Batu
Zaman ini disebut zaman batu karena alat-alat yang ditemukan pada umumnya masih terbuat dari batu, walaupun ditemukan pula beberapa alat dari tulang atau tanduk hewan. Zaman batu terbagi lagi atas zaman Palaeolithikum, Mesolithikum, Neolithikum, dan Megalithikum.
2. Zaman Logam
Pada zaman ini kemampuan manusia prasejarah dalam membuat barang-barang mengalami peningkatan. Terbukti dengan ditemukannya alat-alat dari logam, yang menunjukan mereka telah memiliki kemampuan untuk mengolah bijih besi. Zaman logam terbagi atas zaman tembaga, perunggu, dan besi.
Menurut geologi, yaitu ilmu yang mempelajari kulit bumi membagi zaman prasejarah seperti dalam tabel berikut.
Tabel : Pembabakan masa prasejarah berdasarkan ilmu geologi
Zaman Kurun Waktu Ciri Khas Kehidupan
Arkaikum Berlangsung 2.500juta tahun yang lalu Kulit bumi masih panas, keadaanbumi belum stabil dan dalam prose pembentukan, belum ada tanda-tanda mahluk hidup
Palaeozoikum Berlangsung 340 juta tahun yang lalu Bumi sudah terbentuk, sudah mulai ada tanda-tanda kehidupan seperti mikro-organisme, ikan, amfibi, dan reptil yang bentuknya kecil dan jumlahnya belum begitu banyak.
Mesozoikum Berlangsung 140 juta tahun yang lalu Jenis ikan dan reptil sudah mulai banyak. Dinosaurus diperkitakan hidup pada zaman ini.
Neozoikum Berlangsung 60 juta tahun yang lalu sampai kini Terbagi atas dua zaman, yaitu :
1. Zaman tersier yang terbagi atas :
• Palaeosen
• Eosen
• Oligosen
• Miosen
• Pliosen
Pada zaman ini binatang berukuran besar sudah mulai Berkurang, sedangkan monyet dan kera mulai bertambah.
2. Zaman Kuarter yang terbagi atas :
• Pleistosen (Dilluvium)
• Holosen (Alluvium)
Pada zaman Pleistosen hidup manusia purba atau lebih dikenal manusia-kera, sedangkan pada zaman Holosen bentuk fisik manusia purba mirip dengan bentuk fisik manusia zaman sekarang

E. Ilmu Bantu Dalam Penelitian Zaman Prasejarah
Ilmu-ilmu bantu tersebut adalah :
1. Paleoantropologi adalah ilmu yang mengkaji bentuk-bentuk fisik manusia mulai dari bentuk manusia pertama hingga menjelang zaman sejarah
2. Paleontologi adalah ilmu yang mengkaji fosil-fosil.
3. Geologi adalah ilmu yang mengkaji lapisan bumi.
Zaman prasejarah hanya meninggalkan fosil (sisa-sisa mahluk hidup yang terdiri atas manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan yang telah membatu) dan benda buatan manusia yang disebut artefak. Untuk meniliti umur artefak digunakan beberapa cara penelitian berdasarkan :
1. Tipologi atau bentuk adalah cara penentuan umur benda berdasarkan bentuknya. Makin sederhana bentuknya maka umur benda tersebut diperkirakan makin tua.
2. Stratigrafi adalah cara penentuan umur benda berdasarkan letak temuannya dalam lapisan tanah. Lapisan tanah paling bawah adalah lapisan tanah paling tua. Sedangkan lapisan paling atas adalah lapisan tanah paling muda.
3. Radiasi adalah cara penentuan umur benda berdasarkan banyaknya sinar tertentu yang masuk ke benda tersebut. Makin banyak sinar yang masuk berarti makin tua umurnya.
4. Kimiawi adalah cara penentuan umur benda berdasarkan kandungan unsur-unsur kimia yang ada dalam benda itu.
REFLEKSI
Jika terdapat materi yang belum dipahami, pelajari kembali secara seksama dan diskusikan bersama kelompok belajarmu, carilah referensi lain yang relevan, termasuk Internet. Lebih lanjut, tanyakan kepada guru bidang studi Sejarah di sekolahmu agar semua materi dapat dikuasai!
UJI KOMPETENSI
A. Silanglah salah satu jawaban yang paling benar!
1. Manfaat yang dapat diambil dengan mempelajari peristiwa di masa lampau adalah.....
a. Agar dapat mempersiapkan kehidupan di masa depan jadi lebih baik
b. Mengenang peristiwa masa lampau
c. Untuk dapat di ceritakan kepada generasi mendatang
d. Melupakan kehidupan yang sudah lewat
2. Pembeda antara zaman prasejarah dengan zaman sejarah adalah.....
a. Zaman prasejarah sudah ada tulisan, zaman sejarah belum ada tulisan
b. Zaman prasejarah belum ada tulisan, zaman sejarah sudah ada tulisan
c. Zaman prasejarah belum ada manusia, zaman sejarah sudah ada manusia
d. Zaman prasejarah sudah ada manusia, zaman sejarah belum ada manusia
3. Pengkritikan sumber sejarah untuk menilai keaslian sumber disebut.....
a. Heuristik c. Interpretasi
b. Verifikasi d. historiografi
4. Perkembangan zaman prasejarah berdasarkan perkembangan kebudayaan terdiri atas.....
a. Zaman logam dan perunggu c. Zaman batu dan perunggu
b. Zaman batu dan besi d. Zaman batu dan logam
5. Cara penentuan umur benda berdasarkan letak temuannya dalam lapisan tanah adalah cara penelitian berdasarkan.....
a. Tipologi c. Stratigrafi
b. Radiasi d. kimiawi
6. Zaman sebelum manusia mengenal tulisan (aksara) disebut.....
a. Zaman palaeolithikum c. Prasejarah atau praaksara
b. Prasasti d. fosil
7. Berdasarkan benda-benda peninggalan zaman manusia purba, pembabakan zaman praaksara dibagi menjadi.....
a. Zaman sejarah dan zaman praaksara c. Zaman perunggu dan zaman logam
b. Zaman batu dan zaman logam d. Zaman plestosin dan zaman holosen
8. Zaman diperkirakan manusia mulai hadir di muka bumi adalah zaman.....
a. Neozoikum c. Mesozoikum
b. Palaeozoikum d. pleistosen
9. Kata fosil berasal dari kata fodere yang berarti.....
a. Tulang c. Menggali
b. Tubuh d. peninggalan
10. Ilmu bantu sejarah yang mempelajari lapisan-lapisan kulit bumi adalah.....
a. Arkeologi c. Geologi
b. Paleontologi d. Paleoantropologi
B. Isian
11. Kata sejarah berasal dari bahasa arab, yaitu.....
12. Kritik mengenai keaslian sumber (otentisitas) disebut kritik.....
13. Indonesia diperkirakan memasuki zaman sejarah pada abad ke.....
14. Pembabakan zaman prasejarah menjadi arkaikum, palaeozoikum, mesozoikum, dan neozoikum adalah berdasarkan ilmu.....
15. Peninggalan-peninggalan zaman prasejarah berupa fosil-fosil dan benda-benda buatan manusia disebut.....
16. Cara penentuan umur benda berdasarkan kandungan unsur-unsur kimia yang ada dalam benda disebut.....
17. Prasasti, dokumen, naskah adalah sumber sejarah.....
18. Tugu batu pengikat hewan kurban yang diketemukan di muara kaman adalah.....
19. Zaman prasejarah meninggalkan bukti berupa fosil yang dinamakan......
20. Cara penentuan benda berdasarkan bentuknya adalah.....
C. Uraian
21. Jelaskan perbendaan pengertian prasejarah dengan sejarah!
22. Apa yang dimaksud dengan artefak!
23. Sebutkan dan jelaskan sumber sejarah!
24. Deskripsikan kurun waktu zaman praaksara secara kronologis!
25. Sebutkan beberapa cara penelitian umur artefak!

BAB II JENIS-JENIS MANUSIA PRASEJARAH

 Standar Kompetensi : Memahami Lingkungan Kehidupan Manusia
 Kompetensi dasar : Menjelaskan Kehidupan Pada Masa Prasejarah di Indonesia
 Indikator : Mengidentifikasi jenis-jenis manusia Indonesia yang hidup
pada masa prasejarah
 Alokasi Waktu : 4 X 40 menit

TUJUAN PEMBELAJARAN
Dengan mempelajari bab ini, kamu diharapkan mampu:
• Menjelaskan penemuan fosil manusia prasejarah;
• Mengidentifikasikan manusia zaman prasejarah di Indonesia;
• Mengidentifikasikan manusia zaman prasejarah di Asia, Afrika, dan Eropa
Pendalaman Materi/Konsep
Jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia memiliki usia yang sudah tua, hampir sama dengan penemuan manusia purba di negara-negara lainnya di dunia. Bahkan Indonesia dapat dikatakan mewakili penemuan manusia purba di daratan Asia. Daerah penemuan manusia purba di Indonesia tersebar di be¬berapa tempat, khususnya di Jawa. Penelitian tentang manusia purba di Indonesia telah lama dilakukan. Para peneliti itu antara lain: Eugene Dubois, G.H.R Von Koenigswald, dan Franz Wedenreich. Berikut ini jenis-jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia.
A. Manusia Prasejarah di Indonesia
1. Pithecanthropus erectus (Manusia kera yang berjalan tegak)
Jenis manusia ini ditemukan oleh seorang dokter dari Belanda bernama Eugene Dubois pada tahun 1890 di dekat Trinil, sebuah desa di pinggir Bengawan Solo, tak jauh dari Ngawi (Madiun). Pithecanthropus Erectus diambil dari kata pithekos = kera, anthropus = manusia, erectus = berjalan tegak. Jadi Pithecanthropus Erectus artinya manusia-kera yang berjalan tegak. Jenis manusia ini menurut para ahli kemampuan berpikirnya masih rendah karena volume otaknya 900 cc, sedangkan volume otak manusia modern lebih dari 1000cc. Kemudian kalau dibandingkan dengan kera, volume otak kera tertinggi 600 cc. Jadi, jenis manusia purba ini belum mencapai taraf ukuran otak manusia modern. Diperkirakan jenis manusia ini hidup antara 1 juta-600.000 tahun yang lalu atau pada zaman paleolithikum (zaman batu tua).
Fosil sejenis Pithecantropus lainnya ditemukan oleh G.H.R Von Koenigswald pada tahun 1936 di dekat Mojokerto. Dari gigi tengkorak diperkirakan usia fosil ini belum melebihi usia 5 tahun. Kemungkinan tengkorak tersebut anak dari Pithecanthropus Erectus dan von Koenigswald menyebutnya dengan nama Pithecantropus Mojokertensis. Von Koenigswald di tempat yang sama menemukan fosil yang diberi nama Pithecantropus Robustus.
2. Pithecanthropus Mojokertensis (Manusia kera dari Mojo)
Pada 1936, von Koenigswald di daerah Mojokerto menemukan fosil tengkorak anak-anak yang diperkirakan belum melewati usia 5 tahun. Diperkirakan fosil ini merupakan anak Pithecantropus Erectus. Fosil ini dinamakan Pithecanthropus Mojokertensis.
3. Pithecanthropus Soloensis(Manusia kera dari Solo)
Sebelum menemukan Meganthropus palaeojavanicus, pada tahun 1931 Von Koenigswald juga berhasil menemukan tengkorak dan tulang kering yang mirip dengan Pithecanthropus erectus temuan Dubois. Fosil tersebut kemudian diberi nama Pithecanthropus soloensis berarti manusia kera dari Solo yang ditemukan di Sambungmacan dan Sangiran.
4. Meganthropus Paleojavanicus (manusia besar dari zaman Batu di Jawa)
Pada tahun 1941, von Koeningwald di daerah menemukan sebagian tulang rahang bawah yang jauh lebih besar dan kuat dari rahang Pithecanthropus. Geraham-gerahamnya menunjukkan corak-corak kemanusiaan, tetapi banyak pula sifat keranya. Von Koeningwald menganggap mahluk ini lebih tua daripada Pithecanthropus. Mahluk ini ia beri nama Meganthropuis Paleojavanicus (mega = besar), karena bentuk tubuhnya yang lebih besar. Diperkirakan hidup pada 2 juta sampai satu juta tahun yang lalu.
5. Homo Soloensis (Manusia dari Solo)
Hampir bersamaan dengan penemuan Meganthropus palaeojavanicus, Von Koenigswald menemukan pula sebuah tengkorak manusia yang memiliki volume otak lebih besar dari manusia-manusia jenis Pithecanthropus. Struktur tengkorak manusia ini tidak mirip dengan kera. Karena itu, fosil ini diberi nama Homo soloensis yang artinya manusia dari Solo.
6. Homo Wajakensis (manusia dari Wajak)
Fosil tengkorak manusia yang mirip dengan penemuan Von Koenigswald pernah pula ditemukan sebelumnya oleh seorang penambang batu marmer bernama B.D. Vonn Rietschotten pada tahun 1889. Fosil tersebut kemudian diteliti oleh Eugene Dubois dan diberi nama Homo wajakensis, artinya manusia dari Wajak.
7. Homo Sapiens (Manusia Cerdas)
Homo Sapiens merupakan manusia yang paling maju dan paling cerdik. Homo Sapiens, artinya manusia yang cerdas. Homo Sapiens hidup pada masa Holosen dan memiliki bentuk fisik yang yang hampir sama dengan manusia zaman sekarang. Fosil ini ditemukan oleh Von Rietschoten pada tahun 1889, di Desa Wajak, Campur Darat, Tuluanggung, Jawa Timur.
Homo Sapiens yang terdapat di Indonesia sudah ada pada zaman Mesolithikum dan mereka sudah mengenal tempat tinggal secara menetap serta mengumpulkan makanan dan menangkap ikan. Kebudayaannya disebut kebudayaan Mesolithikum yang mendapat pengaruh dari kebudayaan Bacson-Hoabinh dari Indo-Cina (Vietnam).

INFORMASI
Perkampungan ”Pygmi” di Flores
Di Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur ditemukan sebuah perkampungan masyarakat pygmi atau katai. Apa keistimewaan perkampungan ini? Menurut para ahli arkeologi, perkampungan ini menyimpan sejumlah misteri. Saat tahun 2004 para ahli mempublikasikan temuannya tentang fosil manusia kerdil yang diberi nama Homo floresiensis, perkampungan ini luput dari perhatian mereka. Penelitian mereka hanya terfokus pada fosil dan beragam bentuk peninggalan yang ada di dalam gua Liang Bua.
Menurut Prof. Dr. Teuku Jacob, keberadaan masyarakat pygmi sangat menarik dan mengejutkan karena selama bertahun-tahun para ahli hanya berkutat dengan jejak manusia purba melalui fosil. Akan tetapi, tidak pernah terbayangkan bahwa di sekitar kawasan itu terdapat sebuah komunitas masyarakat katai yang hingga kini masih hidup dan bertahan. Mengapa mereka bisa hidup selama ribuan tahun tanpa pernah berpindah-pindah?
Kawasan Nusa Tenggara Timur memang telah menjadi objek penelitian para antropolog Belanda. Mereka berpendapat bahwa penduduk setempat mempunyai ukuran tinggi badan yang agak pendek. Menurut penelitian Biljmer tahun 1929 lebih dari 50 persen penduduk setempat memiliki ukuran tinggi badan sekitar 155–163 cm. Bahkan, menurut warga setempat, ada orang-orang bertubuh pendek dengan warna kulit kehitam-hitaman (Negrito) yang tinggal di perbukitan dan bersembunyi di gua-gua. Menurut Jacob, tinggi orang Negrito itu berkisar 155–163 cm maka sebutannya adalah pygmoid. Akan tetapi, masyarakat di Rampasasa itu adalah pygmi atau katai karena tinggi badan mereka di bawah 145 cm untuk laki-laki dewasa dan wanita dewasanya hanya sekitar 135 cm. Berat badan pria maksimal 40 kg dan wanitanya rata-rata 30 kg.
Perlu diketahui bahwa katai memang berbeda dengan kerdil. Istilah kerdil menunjukkan ukuran badan mengecil dengan proporsi rusak atau tidak beraturan, sementara itu katai ukurannya kecil secara proporsional. Pada akhir tahun 2004 Prof. Dr. R.P. Soejono dan Dr. M.J. Morwood melakukan penggalian di Liang Bua, Flores. Mereka menemukan tengkorak manusia dengan tinggi badan sekitar 130 cm dengan besar otaknya sepertiga manusia sekarang. Spesies inilah yang kemudian dikenal dengan Homo floresiensis atau Manusia Flores.
B. Manusia Prasejarah di Asia, Afrika, dan Eropa
1. Manusia Prasejarah di Asia
Penemuan fosil manusia zaman prasejarah di Asia antara lain terjadi di Peking. Namanya Homo erectus pekinensis, atau manusia Peking (disebut juga dengan nama manusia Beijing atau Sinanthropus Pekinensis). Ditemukan oleh Davidson Son Black dan Franz Waidenreich pada tahun 1929-1980 didalam gua Zhoukoudian (Choukoutien), dekat Beijing (Peking), Cina. Diduga fosil ini hidup pada 250.000-400.000 tahun yang lalau, pada zaman Pleistosen.
2. Manusia Prasejarah di Eropa
Di benua Eropa, pada tahun 1856 diketemukan fosil manusia zaman prasejarah berupa tempurung kepala dan beberapa tulang anggota tubuh yang diberi nama Homo Neanderthalensis, oleh Rudolph Virchou. Tepatnya di Gua Neanderthal, dekat Dusseldorf. Diperkirakan mahluk ini hidup pada pertengahan alhir Pleistosen, ± 500.000 sampai 50.000 yang lalu. Pada tahun tahun 1868, ditemukan fosil Homo Cro-Magnon di gua Cro_Magnon dekat kota Les Eyzies. Ciri fisiknya mendekati manusia masa kini, umurnya sekitar 40.000-25.000 tahun yang lalu.
3. Manusia Prasejarah di Afrika
Ditemukan fosil Homo Rhodesiensis di gua Broken Hill, Rhodesia (sekarang Zimbabwe) pada tahun 1924 oleh Robert Brom. Selain itu, ditemukan pula fosil Australopithecus Africanus di Taung dekat Vryburg, Afrika Selatan pada tahun 1924 oleh Raymond Dart.
REFLEKSI
Setelah mempelajari Bab ini, apakah kalian sudah memiliki kemampuan untuk menjelaskan jenis-jenis manusia prasejarah dengan berbagai ciri-cirinya? Apabila belum, apa yang harus kalian lakukan?
TUGAS
1. Sebutkan jenis-jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia dan di luar Indonesia, penemu, tempat dan tahun penemuannya!



BAB III PERKEMBANGAN KEHIDUPAN PADA ZAMAN PRASEJARAH

 Standar Kompetensi : Memahami Lingkungan Kehidupan Manusia
 Kompetensi dasar : Menjelaskan Kehidupan Pada Masa Prasejarah di Indonesia
 Indikator : Mendeskripsikan perkembangan kehidupan pada masa prasejarah
 Alokasi Waktu : 4 X 40 menit

TUJUAN PEMBELAJARAN
Dengan mempelajari bab ini, kamu diharapkan mampu:
• Mengklasifikasikan pembabakan kehidupan masyarakat prasejarah di Indonesia;
• Mengidentifikasikan kehidupan zaman berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana;
• Mengidentifikasikan kehidupan zaman berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut;
• Mengidentifikasikan kehidupan zaman bercocok tanama;
• Mengidentifikasikan kehidupan zaman perundagian;
Pendalaman Materi/Konsep
Pada saat makanan (tumbuhan dan binatang) yang disediakan alam itu berlimpah maka tingkat kehidupan manusia pada waktu itu cukup berburu dan mengumpulkan makanan. Cara hidup mereka yang masih mengumpulkan makanan dikenal dengan sebutan food gathering. Tetapi ketika bahan makanan mulai menipis dan tidak ada lagi, timbulah kemampuan manusia untuk mengolahnya. Cara hidup yang sudah mampu menghasilkan makanan sendirin misalnya dengan cara berladang dikenal dengan sebutan food producing. Perubahan yang terjadi pada alam ini, akan berpengaruh kepada kehidupan manusia. Mereka tidak lagi hidup berpindah-pindah (nomaden), tetapi mulai pada kehidupan yang menetap. Berikut ini tahapan kehidupan manusia pada masa prasejarah di Indonesia.
A. Zaman berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
Ciri-ciri zaman bebruru dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana :
Manusia pada masa ini memiliki pikiran dan kecakapan yang sangat terbatas. Mereka hidup didatran rendah yang terdapat sumber air dan makanan.
Kegiatan mata pencaharian mereka adalah berburu dan mengumpulkan makanan.
Hidup secara berkelompok dalam jumlah yang kecil, untuk saling melindungi diri dari binatang buas.
Hidup nomaden, yaitu berpindah-pindah tempat, apabila sumber makan berkurang atau habis.
Alat-alat yang digunakan masih sangat sederhana, terbuat dari potongan batu, tulang, kayu yang tidak dibentuk.
Tabel kehidupan zaman berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana.
Kondisi Zaman berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
Keadaan alam Kondisi bumi masih belum stabil (zaman tersier).
Flora Pohon salam dan rasamala, umbi-umbian, buah-buahan, dan sayu-sayuran
Fauna Lembu, gajah, dan harimau
Kehidupan masyarakat Didominasi jenis Pithecanthropus erectus, food gathering, nomaden, belum mengenal sistem religi.
Alat-alat kehidupan Kapak perimbas, kapak genggam, alat-alat serpih.

B. Zaman bebruru dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
Ciri-ciri zaman berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut :
Manusia pada masa berburu dengan menggunakan alat berupa kapak batu, tongkat, dan tombak kayu. Perburuan ini bisa menjangkau daerah yang cukup jauh.
Proses mengumpulkan makanan tidak hanya dilakukan di sekitar tempat tinggalnya, tetapi mencakup daerah lainnya.
Tempat tinggalnya di gua-gua.
Hidup berpindah tempat dilakukan jika sumber makanan berkurang.
Alat-alat yang digunakan masih berbentuk kasar, terbuat dari batu, tulang, dan tanduk yang lebih tajam dan runcing.
Tabel Kehidupan zaman berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut.
Kondisi Zaman berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
Keadaan alam Perubahan iklim dari musim dingin ke musim panas (pasca-pleistosen)
Fauna Biawak, kera, banteng, kerbau, kijang, dan sebagainya. Ikan, kerang, siput (ukurannya lebih besar dibandingkan saat ini)
Flora Umbi-umbian, buah-buahan, dan sayuran
Kehidupan masyarakat Berburu, bertempat tinggal di gua-gua, nomaden, sudah mengenal sistem religi, bercocok tanam secara sederhana
Alat-alat kehidupan Alat terbuat dari batu, tulang, tanduk (masih berbentuk kasar) dan Sudip sebagai alat berburu yang terbuat dari tulang.

C. Zaman bercocok tanam
Ciri-ciri zaman bercocok tanam :
Pola hidupnya mulai menetap di dataran rendah secara berkelompok dan sudah memilih pemimpin.
Manusia pada masa ini, sudah mengenal cara bercocok tanam, megolah tanah, dan memelihara hewan.
Mereka mulai menguasai cara menyimpan makanan dan mengawetkan makanan secara sederhana.
Mereke mengenal sistem kepercayaan terhadap roh nenek moyang dan kekuatan alam. Sistem kepercayaan ini ditunjukan melalui simbol-simbol gambar berwarna, bangunan, dan arca yang terbuat dari batu besar.
Alat-alat yang digunakan terbuat dari batu, dan bahan lainnya yang bentuknya sudah diasah.
Tabel Zaman bercocok tanam.
Kondisi Zaman bercocok tanam
Keadaan alam Bumi sudah stabil
Flora Hampir sama dengan keadaan saat ini
Fauna Hampir sama dengan keadaan saat ini
Kehidupan masyarakat Sudah mulai menetap, bercocok tanam (food producing), sudah mengenal memelihara hewan, sistem barter (pertukaran barang), sistem kepercayaan, animisme dan dinamisme
Alat-alatkehidupan Terbuat dari batu dan sudah diasah. Beliung persegi, kapak lonjong, gerabah, alat pemukul kulit kayu, perhiasan

D. Zaman perundagian
Ciri-ciri zaman perundagian :
Sudah terbentuk kelompok-kelompok kerja dalam bidang pertukangan.
Adanya status keanggotaan masyarakat yang didasarkan pada tingkat kekayaan.
Sudah mengenal teknik pengolahan logam, sehingga alat-alat upacara, senjata, dan peralatan kerja yang digunakan dibuat dari tembaga, perunggu, dan besi.
Mereka sudah membuat perhiasan dari emas.
Tempat-tempat ibadah digunakan untuk memuja roh nenek moyang, terbuat dari batu-batu besar.
Kepercayaan mereka adalah animisme dan dinamisme.
REFLEKSI
Perkembangan kehidupan manusia berlangsung dengan suatu proses yang panjang dan membutuhkan waktu yang lama. Begitupula dengan keber¬hasilanmu dalam belajar, sama-sama membutuhkan proses dan kerja keras. Oleh karena itu, terus belajar dengan sungguh-sunggug dan sabar dalam menjalani proses.
TUGAS
1. Isilah Tabel Berikut!
Masa Berburu dan Meramu Masa Bercocok Tanam Masa Perundagian
Cara mendapatkan makanan
Alat yang digunakan

Sistem kepercayaan

Peninggalan


2. Kerjakan secara kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa!
 Mengapa masyarakat prasejarah selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain?
 Mengapa masyarakat prasejarah cenderung hidup di sekitar sungai dan daerah lembah?








BAB IV PENINGGALAN ZAMAN PRASEJARAH

 Standar Kompetensi : Memahami Lingkungan Kehidupan Manusia
 Kompetensi dasar : Menjelaskan Kehidupan Pada Masa Prasejarah di Indonesia
 Indikator : Mengidentifikasikan peninggalan-peninggalan kebudayaan pada
masa prasejarah
 Alokasi Waktu : 4 X 40 menit

TUJUAN PEMBELAJARAN
Dengan mempelajari bab ini, kamu diharapkan mampu:
• mengklasifikasikan pembagian zaman prasejarah berdasarkan peninggalannya;
• mendeskripsikan peninggalan zaman batu;
• mendeskripsikan peninggalan zaman logam;
===================================================================
Pendalaman Materi/Konsep
Berdasarkan benda-benda peninggalan yang ditemukan, masa prasejarah dibagi menjadi:
1. Zaman Batu
yaitu zaman ketika manusia mulai mengenal alat-alat yang terbuat dari batu. Pada zaman ini, bukan berarti alat-alat dari kayu atau bambu tidak dibuat. Alat yang terbuat dari bahan kayu atau bambu mudah rapuh, tidak tahan lama seperti dari batu, bekas-bekas peninggalannya tidak ada lagi. Ciri-ciri zaman batu, yaitu :
1) Dimulai kurang lebih pada tahun 590.000 SM.
2) Peralatan yang digunakan masyarakatnya masih menggunakan bahan dari batu.
3) Alat dari batu ini digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan binatang buas, mencari dan mengolah makanan.
4) Selain batu, digunakan juga peralatan dari kayu, tetapi tidak ada bekasnya karena lapuk dan tidak tahan lama.
5) Pola pikir manusia masih sangat sederhana
Zaman batu ini dibagi lagi atas beberapa periode, yaitu:
a. Zaman batu tua (Palaeolithikum);
b. Zaman batu tengah (Mesolithikum);
c. Zaman batu muda (Neolithikum);
d. Zaman batu besar (Megalithikum).

2. Zaman logam
yaitu zaman sewaktu manusia sudah mampu membuat alat-alat perlengkapan hidupnya dari logam. Teknik pembuatan alat-alat dari logam ini dengan cara melebur terlebih dahulu bijih-bijih logam yang nanti dituangkan dalam bentuk alat-alat yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Dengan demikian, zaman logam ini tingkat kehidupan manusia sudah lebih tinggi daripada zaman batu. Ciri-ciri zaman logam, yaitu :
1) Manusia yang hidup pada zaman ini, sudah mulai bertempat tinggal dengan menetap.
2) Perlalatan yang digunakan masyarakat sudah mulai beralih ke bahan-bahan yang terbuat dari logam.
3) Mata pencaharian tidak hanya dari pertanian, tetapi juga melalui usaha perdagangan (jual beli alat dari logam).
4) Pola pikir masyarakatnya mengalami kemajuan dengan bukti bahwa mereka sudah menyentuh nilai-nilai keagamaan, yaitu melakukan ritual tradisi memuja roh nenek moyang.
5) Memeiliki kemampuan tambahan yaitu berlayar dengan menggunakan perahu cadik.
Zaman logam dibagi atas:
a. zaman tembaga,
b. zaman perunggu, dan
c. zaman besi.

A. Hasil Kebudayaan zaman Batu
Pada zaman batu peralatan hidup manusia purba terbuat dari batu. Berdasarkan perkembangannya zaman batu dapat dapat dikelompokan menjadi empat yaitu :
1. Zaman Batu Tua (Palaeolithikum)
Paleolithikum berasal dari kata Palaeo artinya tua, dan Lithos yang artinya batu sehingga zaman ini disebut zaman batu tua. Hasil kebudayaannya banyak ditemukan di daerah Pacitan dan Ngandong Jawa Timur. Para arkeolog sepakat untuk membedakan temuan benda-benda prasejarah di kedua tempat tersebut, yaitu sebagai kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong.
Zaman batu tua diperkirakan berlangsung kurang lebih 600.000 tahun silam. Kehidupan manusia masih sangat sederhana, hidup berpindah-pindah (nomaden), dan bergantung pada alam. Mereka memperoleh makanan dengan cara berburu, mengumpulkan buahbuahan, umbi-umbian, serta menangkap ikan. Cara hidup seperti ini dinamakan food gathering.
Jenis peralatan yang digunakan pada zaman batu tua terbuat dari batu yang masih kasar, seperti kapak genggam (chopper), kapak penetak (chopping tool), peralatan dari tulang dan tanduk binatang, serta alat serpih (flake) yang digunakan untuk menguliti hewan buruan, mengiris daging, atau memotong umbi-umbian.


Gambar Alat Pacitan dari berbagai sisi.
Sumber: www.wikipedia.org

2. Zaman Batu Pertengahan/Madya (Mesolithikum)
Mesolithikum berasal dari kata Meso yang artinya tengah dan Lithos yang artinya batu sehingga zaman ini dapat disebut zaman batu tengah.
Zaman batu pertengahan diperkirakan berlangsung kurang lebih 20.000 tahun silam. Pada zaman ini, kehidupan manusia tidak jauh berbeda dengan zaman batu tua, yaitu berburu, mengumpulkan makanan, dan menangkap ikan. Mereka juga sudah mulai hidup menetap di gua, tepi sungai, atau tepi pantai.
Alat-alat perkakas yang digunakan pada masa Mesolithikum hampir sama dengan alat-alat pada zaman Palaeolithikum, hanya sudah sedikit dihaluskan. Peralatan yang dihasilkan pada zaman Mesolithikum, antara lain kapak Sumatra (pebble), sejenis kapak genggam yang dibuat dari batu kali yang salah satu sisinya masih alami; kapak pendek (hache courte), sejenis kapak genggam dengan ukuran
yang lebih kecil; pipisan, batu-batu penggiling beserta landasannya; alat-alat dari tanduk dan tulang binatang; mata panah dari batu dan juga flake.
Adapun hasil-hasil kebudayaan yang ditinggalkan manusia purba pada zaman batu pertengahan adalah sebagai berikut :
1) Peradaban abris sous roche (abris = tinggal, sous = dalam, roche = gua), yaitu peradaban ketika manusia purba menjadikan gua-gua sebagai tempat tinggal. Hasil kebudayaannya adalah Kebudayaan Sampung Bone di Gua Lawa, dekat Sampung Ponorogo, Jawa Timur, berupa tulang manusia jenis Papua Melanesoid, flakes, alat-alat dari tulang, dan tanduk rusa yang ditemukan pada 1928–1931 oleh van Stein Callenfels dan Kebudayaan Toala di Lamoncong, Sulawesi Selatan. Hasil kebudayaan ini adalah lukisan yang terdapat di dinding gua, seperti lukisan manusia, cap tangan, dan binatang yang ditemukan di Gua Raha, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, dan Danau Sentani Papua.
2) Manusia purba yang tinggal di sepanjang pantai pada zaman Mesolithikum telah memiliki kemampuan membuat rumah panggung sederhana. Kehidupan manusia purba ini menghasil kan tumpukan sampah berupa kulit siput dan kerang di bawah rumah mereka yang disebut kjokken moddinger (kjokken = dapur, moddinger = sampah). Sampah dapur ini banyak ditemukan di daerah pantai timur Sumatra antara Langsa sampai Medan.
3) Peninggalan berupa kapak Sumatra dan kapak pendek di Indonesia sama dengan peninggalan kebudayaan yang ditemukan di Pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh, Tonkin,Yunan Selatan. Para ahli menyimpulkan bahwa di Tonkin terdapat pusat kebudayaan pra-aksara Asia Tenggara yang kemudian diberi nama Kebudayaan Bacson-Hoabinh.


Gambar Pebble.
Sumber: www.wikipedia.org

3. Zaman Batu Muda (Neolithikum)
Neolithikum berasal dari kata Neo yang artinya baru dan Lithos yang artinya batu. Neolithikum berarti zaman batu baru/muda. Pada zaman batu baru/ muda, kehidupan manusia purba sudah berangsur-angsur hidup menetap tidak lagi berpindah-pindah. Manusia pada zaman ini sudah mulai mengenal cara bercocok tanam meskipun masih sangat sederhana, selain kegiatan berburu yang masih tetap dilakukan. Manusia purba pada masa neolithikum sudah bisa menghasilkan bahan makanan sendiri atau biasa disebut food producing.
Peralatan yang digunakan pada masa neolithikum sudah diasah sampai halus, bahkan ada peralatan yang bentuknya sangat indah. Peralatan yang diasah pada masa itu adalah kapak lonjong dan kapak persegi. Di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan ada yang telah membuat mata panah dan mata tombak yang digunakan untuk berburu dan keperluan lainnya.
Perkembangan penting pada zaman batu muda adalah banyak ditemukannya kapak lonjong dan kapak persegi dengan daerah temuan yang berbeda. Kapak persegi banyak ditemukan di wilayah Indonesia bagian Barat, seperti Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Nusa Tenggara. Adapun kapak lonjong banyak ditemukan di wilayah Indonesia bagian Timur, seperti Sulawesi, Halmahera, Maluku, dan Papua.
Perbedaan daerah temuan kapak persegi dan kapak lonjong tersebut diperkirakan karena daerah penyebaran kapak persegi dan kapak lonjong bersamaan dengan persebaran bangsa Austronesia, sebagai nenek moyang bangsa Indonesia yang datang sekitar 2000 SM.


Gambar Peninggalan zaman Neolithikum.
Sumber: www.wikipedia.org
4. Zaman Batu Besar (Megalithikum)
Megalithikum berasal dari kata megalith dalam bahasa yunani. Kata itu tersusun atas kata mega dan lithos, mega berarti besar, dan lithos berarti batu. Jadi megalithikum dapat berarti bangunan yang dibuat dari batu besar. Zaman batu besar diperkirakan berkembang sejak zaman batu muda sampai zaman logam. Ciri
utama pada zaman megalithikum adalah manusia yang hidup pada zamannya sudah mampu membuat bangunan-bangunan besar yang terbuat dari batu. Banyak terdapat bangunan-bangunan besar terbuat dari batu ditemukan khususnya yang berkaitan dengan kepercayaan mereka seperti sarkofagus, kubur batu, punden berundak, arca, menhir, dan dolmen.
Berikut merupakan hasil kebudayaan Megalithikum beserta ciri dan fungsinya serta tempat ditemukannya.
1) Sarkofagus adalah bangunan batu besar yang dipahat menyerupai mangkuk, yakni terdiri atas dua keping yang ditangkupkan menjadi sepasang (satu sisi untuk bagian bawah dan sisi lain sebagai penutupnya). Sarkofagus berfungsi sebagai peti jenasah. Banyak ditemukan di daerah Bali.
2) Menhir adalah bangunan berupa tiang atau tugu batu yang berfungsi sebagai tanda peringatan dan melambangkan kehormatan terhadap arwah nenek moyang. Adapun tempat ditemukannya di Paseman Sumatra Selatan dan Sulawesi Tengah.
3) Dolmen adalah bangunan berupa meja batu yang berfungsi sebagai tempat meletakan sesaji dalam pemujaan terhadap roh nenek moyang. Adapun tempat ditemukannya di Cipari Kuningan, Pasemah dan Nusa Tenggara.
4) Punden berundak-undak adalah bangunan berupa susunan batu bertingkat yang menyerupai bangunan candi, yang berfungsi sebagai tempat pemujaan. Ditemukan di Lebak Sibedug dan Bukit Hyang Jawa Timur.
5) Arca Batu adalah bangunan berupa patung manusia dan binatang yang berfungsi sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang disukai, ditemukan di daerah Lampung, Pasemah, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
6) Pandhusa, benda ini berupa meja batu yang kakinya tertutup rapat berfungsi sebagai kuburan, ditemukan di Bondowoso dan Besuki Jawa Timur.
7) Kubur batu adalah peti yang terbuat dari batu berbentuk kotak persegi panjang, yang berfungsi sebagai tempat menyimpan jenazah. Kubur batu banyak ditemukan di Bali, Pasemah (Sumatra Selatan), Wonosari (Yogyakarta), Cepu (Jawa Tengah), dan Cirebon (Jawa Barat).
8) Waruga, yaitu kubur batu berbentuk kubus atau bulat yang terbuat dari batu besar yang utuh. Waruga banyak ditemukan di Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah.
9) Arca atau patung, yaitu bangunan batu berupa binatang atau manusia yang melambangkan nenek moyang dan menjadi pujaan. Peninggalan ini banyak ditemukan di Pasemah (Sumatra Selatan) dan lembah Bada Lahat (Sulawesi Selatan).

B. Hasil Kebudayaan Zaman Logam
Kebuadayaan manusia purba pada zaman logam sudah jauh lebih tinggi atau lebih maju jika dibandingkan dengan kebudayaan manusia purba pada zaman batu. Pada zaman logam manusia purba sudah memiliki kemampuan melebur logam untuk membuat alat-alat yang dibutuhkan. Kebudayaan zaman logam dapat dibagi menjadi tiga zaman yaitu zaman perunggu, zaman tembaga, dan zaman besi.

1. Zaman perunggu
Di Indonesia tradisi logam dimulai beberapa abad sebelum masehi. Tradisi membuat alat-alat dari perunggu merupakan ciri khas pada masa perundagian. Adapun alat-alat dari zaman perunggu antara lain nekara, moko, kapak corong, perhiasan perunggu, arca atau patung perunggu, dan manik-manik.
a. Nekara
Nekara dapat juga disebut Genderang Nobat atau Genderang Ketel karena bentuknya semacam berumbung. Terbuat dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya, dan sisi atasnya tertutup. Bagi masyarakat prasejarah, nekara dianggap sesuatu yang suci. Di daerah asalnya, Dongson, pemilikan nekara merupakan simbol status, sehingga apabila pemiliknya meninggal, dibuatlah nekara tiruan yang kecil yang dipakai sebagai bekal kubur. Di Indonesia nekara hanya dipergunakan waktu upacara-upacara saja, antara lain ditabuh untuk memanggil roh nenek moyang, dipakai sebagai genderang perang, dan dipakai sebagai alat memanggil hujan. Daerah penemuan nekara di Indonesia antara lain, Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau Roti, dan Pulau Kei serta Pulau Selayar, Pulau Bali, Pulau Sumbawa, Pulau Sangean. Nekara-nekara yang ditemukan di Indonesia, biasanya beraneka ragam sehingga melalui hiasan-hiasan tersebut dapat diketahui gambaran kehidupan dan kebudayaan yang ada pada masyarakat prasejarah. Nekara yang ditemukan di Indonesia ukurannya besar-besar. Contoh nekara yang ditemukan di Desa Intaran daerah Pejeng Bali, memiliki ketinggian 1,86 meter dengan garis tengahnya 1,60 meter. Nekara tersebut dianggap suci sehingga ditempatkan di Pure Penataran Sasih. Dalam bahasa Bali sasih artinya bulan, maka nekara tersebut dinamakan nekara Bulan Pejeng.

Gambar Nekara & Moko.
Sumber: www.wikipedia.org
b. Moko
Merupakan genderang kecil yang terbuat dari perunggu. Bangunan ini berguna untuk alat upacara atau sebagai mas kawin. Daerah penemuan moko ini adalah di Alor.

c. Kapak Corong
Kapak corong disebut juga kapak sepatu karena seolah-olah kapak disamakan dengan sepatu dan tangkai kayunya disamakan dengan kaki. Bentuk bagian tajamnya kapak corong tidak jauh berbeda dengan kapak batu, hanya bagian tangkainya yang berbentuk corong. Corong tersebut dipakai untuk tempat tangkai kayu. Bentuk kapak corong sangat beragam jenisnya. Salah satunya ada yang panjang satu sisinya yang disebut dengan candrosa, bentuknya sangat indah dan dilengkapi dengan hiasan.

Gambar Berbagai bentuk Candrasa.
Sumber: www.wikipedia.org
d. Bejana perunggu
Bejana perunggu ditemukan di tepi Danau Kerinci Sumatra dan Madura, bentuknya seperti periuk tetapi langsing dan gepeng. Kedua bejana yang ditemukan mempunyai hiasan yang serupa dan sangat indah berupa gambar-gambar geometri dan pilin-pilin yang mirip huruf J.

Gambar Bejana Perunggu dari Kerinci (Sumatra).Sumber: www.wikipedia.org

e. Arca-arca perunggu
Arca perunggu yang berkembang pada zaman logam memiliki bentuk bervariasi, ada yang berbentuk manusia, ada juga yang berbentuk binatang. Pada umumnya, arca perunggu bentuknya kecil-kecil dan dilengkapi cincin pada bagian atasnya. Adapun fungsi dari cincin tersebut sebagai alat untuk menggantungkan arca itu sehingga tidak mustahil arca perunggu yang kecil dipergunakan sebagai bandul kalung. Daerah penemuan arca perunggu di Indonesia adalah Palembang Sumsel, Limbangan Bogor, dan Bangkinang Riau.

Gambar Arca Perunggu
Sumber: www.wikipedia.org

f. Perhiasan perunggu
Perhiasan dari perunggu yang ditemukan sangat beragam bentuknya, yaitu seperti kalung, gelang tangan dan kaki, bandul kalung dan cincin. Di antara bentuk perhiasan tersebut terdapat cincin yang ukurannya kecil sekali, bahkan lebih kecil dari lingkaran jari anak-anak. Untuk itu, para ahli menduga fungsinya sebagai alat tukar. Perhiasan perunggu ditemukan di Malang, Bali, dan Bogor.

Gambar Aneka Ragam Perhiasan dari Perunggu.
Sumber: Marwati Djoened Poesponegoro, Sejarah Nasional Indonesia 1, halaman 433)

g. Manik-manik
Manik-manik yang berasal dari zaman perunggu ditemukan dalam jumlah yang besar sebagai bekal kubur sehingga memberikan corak istimewa pada zaman perunggu.






Gambar Manik-Manik
Sumber: www.wikipedia.org
2. Zaman tembaga
Di Indonesia tidak mengalami zaman tembaga. Hal ini terlihat dari tidak diketemukannya barang-barang peninggalan yang terbuat dari tembaga.

3. Zaman besi
Zaman besi adalah zaman ketika orang telah dapat melebur besi dari bijihnya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Oleh karena membutuhkan suhu yang sangat panas untuk melebur bijih besi, maka alat-alat yang dihasilkan pun lebih sempurna. Teknik pembuatan alat yang terbuat dari logam dapat dikategorikan menjadi dua cara sebagai berikut.
1) A cire perdue atau cetakan lilin, caranya yaitu membuat bentuk benda yang dikehendaki dengan lilin. Setelah membuat model dari lilin, maka ditutup dengan menggunakan tanah, dan dibuat lubang dari atas dan bawah. Setelah itu, dibakar sehingga lilin yang terbungkus dengan tanah akan mencair, dan keluar melalui lubang bagian bawah. Lubang bagian atas dimasukkan cairan perunggu, dan apabila sudah dingin, cetakan tersebut dipecah sehingga keluarlah benda yang dikehendaki.
2) Bivalve atau setangkup, caranya yaitu menggunakan cetakan yang ditungkupkan dan dapat dibuka, sehingga setelah dingin cetakan tersebut dapat dibuka, maka keluarlah benda yang dikehendaki, cetakan tersebut biasanya terbuat dari batu atau kayu.
Benda-benda yang diketemukan dimasa ini tidak begitu banyak karena mungkin alat-alat tersebut telah berkarat sehingga hancur. Kemungkinan alat-alat tersebut dikubur bersma dengan orang atau pemiliknya yang telah meninggal. Adapun alat-alat dari tradisi besi yang banyak diketemukan antara lain, mata kapak, mata pisau, mata sabit, mata pedang, cangkul, tongkat dan gelang besi. Daerah ditemukannya alat-alat ini adalah Bogor, Wanasari, Ponorogo, dan Besuki. Zaman besi menandakan zaman terakhir dari zaman prasejarah.

TUGAS
Buatlah kliping tentang bukti-bukti zaman prasejarah, manfaatkanlah fasilitas internet dan berikan komentar dari setiap lembaran kliping yang kamu kumpulkan, diskusikan dengan kelompok belajarmu tentang upaya menjaga barang-barang peninggalan zaman prasejarah. Laporkan kepada guru IPS-Sejarah di sekolahmu!





























BAB V KEDATANGAN NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA

 Standar Kompetensi : Memahami Lingkungan Kehidupan Manusia
 Kompetensi dasar : Menjelaskan Kehidupan Pada Masa Prasejarah di Indonesia
 Indikator : Melacak kedatangan dan persebaran nenek moyang bangsa Indo-
nesia di nusantara dengan atlas sejarah
 Alokasi Waktu : 2 X 40 menit

TUJUAN PEMBELAJARAN
Dengan mempelajari bab ini, kamu diharapkan mampu:
• Menjelaskan kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia;
• Menjelaskan asal usul rumpun bahasa Austonesia;
• mendeskripsikan jalur kedatangan Proto Melayu;
• mendeskripsikan jalur kedatangan Deutro Melayu

Pendalaman Materi/Konsep
A. ASAL USUL NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA
Untuk mengetahui asal nenek moyang bangsa Indonesia, kita bisa melalui 2 cara, yaitu melalui persebaran rumpun bahasa dan persebaran kebudayaan bercocok tanam. Merujuk pada bidang linguistik, bahasa yang tersebar di Indonesia termasuk rumpun bahasa Melayu Austronesia.
Menurut para ahli, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, kesimpulan ini diambil berdasarkan bukti kesamaan artefak prasejarah yang ditemukan diwilayah itu dengan artefak prasejarah di Indonesia. Dari artefak yang ditemukan di Yunan, tampak bahwa sekitar 3000 SM masyarakat di wilayah itu, telah mengenal bercocok tanam.
Daerah Yunan terletak di daratan Asia Tenggara. Tepatnya, di wilayah Myanmar sekarang. Seorang ahli sejarah yang mengemukakan pendapat ini adalah Moh. Ali. Pendapat Moh. Ali ini didasarkan pada argumen bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari hulu-hulu sungai besar di Asia dan kedatangannya ke Indonesia dilakukan secara bergelombang. Gelombang pertama berlangsung dari tahun 3000 SM – 1500 SM dengan menggunakan perahu bercadik satu. Sedangkan gelombang kedua berlangsung antara tahun 1500 SM – 500 SM dengan menggunakan perahu bercadik dua. Tampaknya, pendapat Moh. Ali ini sangat dipengaruhi oleh pendapat Mens bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Mongol yang terdesak ke selatan oleh bangsa-bangsa yang lebih kuat.
Sementara, para ahli yang lain memiliki pendapat yang beragam dengan berbagai argumen atau alasannya, seperti:
1. Prof. Dr. H. Kern
Dengan teori imigrasi menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Campa, Kochin Cina, Kamboja. Pendapat ini didasarkan pada kesamaan bahasa yang dipakai di kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanisia, dan Mikronesia. Menurut hasil penelitiannya, bahasa-bahasa yang digunakan di daerah daerah tersebut berasal dari satu akar bahasa yang sama, yaitu bahasa Austronesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya nama dan bahasa yang dipakai daerah-daerah tersebut. Objek penelitian Kern adalah kesamaan bahasa, namanama binatang dan alat-alat perang.
2. Van Heine Geldern
Berpendapat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Asia. Pendapat ini didukung oleh artefak-artefak atau peninggalan kebudayaan yang ditemukan di Indonesia memiliki banyak kesamaan dengan peninggalanpeninggalan kebudayaan yang ditemukan di daerah Asia.
3. Prof. Mohammad Yamin
Berpendapat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Indonesia sendiri. Pendapat ini didasarkan pada penemuan fosil-fosil dan artefakartefak manusia tertua di Indonesia dalam jumlah yang banyak. Di samping itu, Mohammad Yamin berpegang pada prinsip Blood Und Breden Unchro, yang berarti darah dan tanah bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri. Manusia purba mungkin telah tinggal di Indonesia, sebelum terjadi gelombang perpindahan bangsa-bangsa dari Yunan dan Campa ke wilayah Indonesia. Persoalannya, apakah nenek moyang bangsa Indonesia adalah manusia purba?

4. Hogen
Berpendapat bangsa yang mendiami daerah pesisir Melayu berasal dari Sumatera. Banga ini bercampur dengan bangsa Mongol dan kemudian disebut bangsa Proto Melayu dan Deutro Melayu. Bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) menyebar ke wilayah Indonesia pada tahun 3000 SM – 1500 SM. Sedangkan bangsa Deutro Melayu (Melayu Muda) menyebar ke wilayah Indonesia pada tahun 1500 SM – 500 SM.
Berdasarkan penyelidikan terhadap penggunaan bahasa yang dipakai di berbagai kepulauan, Kern berkesimpulan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari satu daerah dan menggunakan bahasa yang sama, yaitu bahasa Campa. Namun, sebelum nenek moyang bangsa Indonesia tiba di daerah kepulauan Indonesai, daerah ini telah ditempati oleh bangsa berkulit hitam dan berambut keriting. Bangsa-bangsa ini hingga sekarang menempati daerahdaerah Indonesia bagian timur dan daerah-daerah Australia.
Sementara, sekitar tahun 1500 SM, nenek moyang bangsa Indonesia yang berada di Campa terdesak oleh bangsa lain dari Asia Tengah yang lebih kuat. Mereka berpindah ke Kamboja dan kemudian melanjutkan perjalanannya ke Semenanjung Malaka dan
daerah Filipina. Dari Semenanjung Malaka, mereka melanjutkan perjalanannya ke daerah Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Sedangkan mereka yang berada di Filipina melanjutkan perjalanannya ke daerah Minahasa dan daerah-daerah sekitarnya.
Bertitik tolak dari pendapat-pendapat di atas, terdapat hal-hal yang menarik tentang asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia.

Pertama, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan dan Campa. Argumen ini merujuk pada pendapat Moh. Ali dan Kern bahwa sekitar tahun 3000 SM – 1500 SM terjadi gelombang perpindahan bangsa-bangsa di Yunan dan Campa sebagai akibat desakan bangsa lain dari Asia Tengah yang lebih kuat. Argumen ini diperkuat dengan adanya persamaan bahasa, nama binatang, dan nama peralatan yang dipakai di kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanesia, dan Mikronesia.
Kedua, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri. Argumen ini merujuk pada pendapat Mohammad Yamin yang didukung dengan penemuan fosil-fosil dan artefak-artefak manusia tertua di wilayah Indonesia dalam jumlah yang banyak. Sementara, fosil dan artefak manusia tertua jarang ditemukan di daratan Asia. Sinanthropus Pekinensis yang ditemukan di Cina dan diperkirakan sezaman dengan Pithecantropus Erectus dari Indonesia, merupakan satu-satunya penemuan fosil manusia tertua di daratan Asia.

Ketiga, masyarakat awal yang menempati wilayah Indonesia termasuk rumpun bangsa Melayu. Oleh karena itu, bangsa Melayu ditempatkan sebagai nenek moyang bangsa Indonesia. Argumen ini merujuk pada pendapat Hogen. Bangsa Melayu yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:

1. Bangsa Proto Melayu atau Melayu Tua
Orang Proto Melayu telah pandai membuat alat bercocok tanam, membuat barang pecah belah, dan alat perhiasan. Kehidupan mereka berpindah-pindah. Bangsa ini memasuki wilayah Indonesia melalui 2 (dua) jalan, yaitu:
a. Jalan barat dari Semenanjung Malaka ke Sumatera dan selanjutnya menyebar ke beberapa daerah di Indonesia.
b. Jalan timur dari Semenanjung Malaka ke Filipina dan Minahasa, serta selanjutnya menyebar ke beberapa daerah di Indonesia. Bangsa Proto Melayu memiliki kebudayaan yang setingkat lebih tinggi dari kebudayaan Homo Sapiens di Indonesia.
Kebuadayaan mereka adalah kebudayaan batu muda (neolitikum). Hasilhasil kebudayaan mereka masih terbuat dari batu, tetapi telah dikerjakan dengan baik sekali (halus). Kapak persegi merupakan hasil kebudayaan bangsa Proto Melayu yang masuk ke Indonesia melalui jalan barat dan kapak lonjong melalui jalan timur. Keturunan bangsa Proto Melayu yang masih hidup hingga sekarang, di antaranya adalah suku bangsa Dayak, Toraja, Batak, Papua.

2. Bangsa Deutro Melayu atau Melayu Muda
Sejak tahun 500 SM, bangsa Deutro Melayu memasuki wilayah Indonesia secara bergelombang melalui jalan barat. Deutro melayu hidup secara berkelompok dan tinggal menetap disuatu tempat. Kebudayaan bangsa Deutro Melayu lebih tinggi dari kebudayaan bangsa Proto Melayu. Hasil kebudayaan mereka terbuat dari logam (perunggu dan besi). Kebuadayaan mereka sering disebut kebudayaan Don Song, yaitu suatu nama kebudayaan di daerah Tonkin yang memiliki kesamaan dengan kebudayaan bangsa Deutro Melayu. Daerah Tonkin diperkirakan merupakan tempat asal bangsa Deutro Melayu, sebelum menyebar ke wilayah Indonesia. Hasil-hasil kebudayaan perunggu yang penting di Indonesia adalah kapak corong atau kapak sepatu, nekara, dan bejana perunggu. Keturunan bangsa Deutro Melayu yang masih hidup hingga sekarang, di antaranya suku bangsa Melayu, Batak, Minang, Jawa, Bugis.

0 komentar:

Poskan Komentar